Bulan Renungan

Bulan September ini benar-benar merupakan bulan penuh renungan dan introspeksi.

Selain bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, minggu ini juga merupakan saat berkabung bagiku dan keluarga, karena bapak tercinta, Iman Syuri telah berpulang ke Rahmatullah kamis, 11 September 2008 pukul 23.30 WIB di RS. Muhammadiyah Kalisat, Kedu Temanggung di usia ke 78 tahun.

Pemakaman dilakukan esok harinya pukul 10.00 WIB di Makam Sekuncen Parakan.

Bapak menderita komplikasi paru-paru, jantung, batu empedu, darah rendah dan maag yang sudah akut, memang sakitnya sudah lama dan sering kambuh, namun mungkin inilah yang sudah digariskan oleh Allah SWT, bahwa hidup, mati, rizki dan jodoh memang sudah diatur.

Bapak meninggalkan ibu dan 4 orang putra (2 putri dan 2 putra) yang sudah menikah (termasuk saya sebagai putra ke-4), semoga kami semua bisa melanjutkan cita-cita orang tua kami, sabar dan tabah dalam menjalani hidup ini, dan berbakti kepada ibu kami dengan perhatian yang lebih, dikarenakan usianya yang juga sudah tua.

Hal yang menjadi renungan untukku….

Kenangan indah bersama bapak, nasihat, contoh / teladan dan hal-hal lain menjadi bekalku untuk bisa bersikap lebih dewasa, bertanggung jawab dan bijaksana, lebih mendekatkan diri pada Allah SWT dan lebih bisa peduli dengan sesame.

Kini tinggal Ibuku….

Yang harus kami beri perhatian penuh, selain keluarga kami sendiri, mungkin inilah mengapa Allah menunjukkanku pada jalan hidupku yang harus kembali ke kampung halaman, kembali ke rumah orang tuaku setelah lama berada di Jogja, setelah tetap bersikeras untuk kembali ke Jogja sesudah menikah dengan perempuan asli Parakan, dengan peringatan gempa dan angin topan yang melanda Jogja dan meruntuhkan ratusan rumah termasuk di tempat kontrakanku, untuk berbakti pada kedua orang tua, untuk menyambut kehidupan baru untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh, untuk membangun keluarga, lingkungan sekitar, parakan dan Temanggung.

Hari-hari ini merupakan evaluasi terhadap perjalananku yang telah lalu, semoga arah hidupku dan keluarga bisa berubah menjadi semakin baik lagi.

Yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa hidup semakin pendek, waktu semakin sedikit, harus diprioritaskan mana yang lebih penting dalam hidup ini untuk di kerjakan.

Hidup sangatah berarti, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bulan ini masih bulan Ramadhan, masih setengah bulan lagi, bulan penuh berkah.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…selamat berpulang Pak, semoga mendapat rahmat disisi Allah, diampuni segala dosa-dosa, mendapat syafaat di hari akhir, dan masuk surga, jannatunna’im.

Amin.

~ oleh sihanss pada September 15, 2008.

3 Tanggapan to “Bulan Renungan”

  1. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun. Menghaturkan turut berduka. Semoga amal idahnya diterima di sisi-Nya.

  2. Inna lillahi wainna ilaihi roji’un
    turut berduka cita
    atas meninggalnya ayahanda tercinta.
    Semoga amal ibadahnya diterima disisiNya.
    Amien.

    *mewakili seluruh jajaran oemah55

    B : matur nuwun semuanya

  3. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…
    Turut berduka cita sedalam2nya..
    Semoga arwah beliu diterima di tempat terbaik di sisi Allah swt

    Mohon maaf jika telat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: