Waktu

Sekarang sudah memasuki bulan Februari, bulan kasih sayang kata orang, terutama dikalangan remaja maupun ABG, sebagian orang tua juga berpendapat demikian, mungkin karena pengaruh dari dunia barat dengan kisah tentang Mr. Valentino sehingga tanggal 14 Februari besuk dirayakan sebagai hari kasih sayang.

Kapan sebenarnya hal itu dimulai, lalu sebelum kejadian itu? Apakah kasih sayang harus diungkapkan dalam satu hari? Ah yang bener saja, kita mempunyai 365 hari plus 1 hari pada tahun kabisat, dan bisa mewujudkan kasih sayang pada semua hari itu, tidak harus tanggal 14 saja, bagaimana kalau pas tanggal 14 tidak ada yang bisa disayangi, jadi repot sendiri kan?.

Bulan demikian cepat berlalu, hari-hari terasa melesat bagai pesawat jet lewat begitu saja dan berganti dengan hari yang lain, ada apa ini sebenarnya, dahulu semasa kecil waktu demikian panjang dan lama sekali, menanti berbuka puasa yang hanya setengah hari saja serasa setahun, apakah waktu yang kian capat akan semakin cepat lagi dimasa datang?, secara logika dalam satu hari ada 24 jam, satu jam 60 menit dan dalam 1 menit ada 60 detik, jam yang dari dulu masih berdetakpun tidak bergeser dari waktu matahari terbit maupun tenggelam, semuanya sama, jadi apakah itu hanya perasaan kita saja?, tapi mengapa perasaan ini hampir sama untuk kebanyakan orang? mengapa yang bisa mengukur perbedaan waktu dulu dan sekarang hanya sebuah ‘rasa’.

Kalau demikian kenyataannya berarti sudah terjawab semua pertanyaan ini, perhitungan waktu kita ini dibuat oleh manusia, seperti juga kecepatan dan percepatan, angka-angka yang sudah terhitung dalam sebuah sistem, namun yang harus diingat adalah siapakah yang mengendalikan waktu di dunia ini, siapakah yang mampu menjalankan maupun menghentikan waktu, tak lain adalah Allah Azza Wajalla sang Pencipta.

Semua apa yang dilakukan mahluk seperti kita, binatang dan tumbuh-tumbuhan, batu, tanah, api, udara dan lain sebagainya berpusat pada yang Maha Kuasa, semua dibawah kendaliNya, jadi kesimpulan dari apa yang disampaikan soal waktu adalah : waktu akan terasa pendek dan menjadi lebih pendek apabila diisi dengan sesuatu yang tidak / kurang bermanfaat, melakukan hal yang sia-sia bahkan negatif akan membuat waktu kita (waktu hidup kita) menjadi pendek dan tidak berarti apapun, mungkin secara logika dan ilmu matematika, yang dilakukan selama ini kelihatan lama dan panjang, sampai ada pepatah bahwa orang yang baik biasanya berumur pendek, dan orang jahat biasanya berumur panjang, itu adalah hitungan manusia.

Coba perhatikan dengan ‘rasa’, dari lubuk hati yang paling dalam, direnungkan, apakah waktu yang demikian panjang itu bermanfaat dan mempunyai nilai positif? Ataukah semuanya itu hanya semu, sia-sia atau bahkan merugikan? Kalau jawabannya ya, berarti waktu yang digunakan selama itu tidak ada artinya, berarti selama itu kita sudah membuang waktu yang sangat berharga, waktu hidup kita!

Sebagai test case atau ujicoba dilapangan, gunakan waktu beberapa hari untuk kebaikan, misalnya berbuat baik, amal, dermawan, minta maaf bila banyak kesalahan, melunasi hutang, beribadah yang maksimal, dengan sholat wajib 5 waktu dengan berjama’ah di Masjid secara khusyu’, ditambah sholat sunah rowatib, dan sunah yang lain, mengkaji Al’qur’an dan kitab lain,  menikmati alam dan isinya dari sudut pandang yang berbeda, dari sudut pandang rasa syukur dan tawadu’ bahwa kita masih bisa hidup, bernafas dal lain sebagainya, mengisi waktu-waktu dengan hablumminallah dan hablumminanas (hubungan dengan Allah sang pencipta dan hubungan dengan sesama manusia juga alam) cobalah rasakan hasilnya dan tanyakan pada hati .

Lalu bayangkan atau kalau berani, buang waktu beberapa hari dengan kesia-sian, nganggur total, nglokro, apatis, malas total, atau apalah yang bisa dikerjaan dan menghasilkan kesia-sian atau kerugian (penulis tidak bertanggungjawab dengan apa yang dilakukan pembaca, rasakan perbedannya.

Bila dengan berbuat positif memberi perasaan bahwa waktu demikian berarti, maka kata hati itu sudah benar, dan bila hal itu dilanjutkan dengan peningkatan dan peningkatan lagi, maka kita akan bisa mensyukuri dengan apa yang telah Allah berikan dengan waktu kita selama ini.

Namun bila yang terjadi sebaliknya, maka harus dipertanyakan kembali secara berkali-kali, sebenarnya apa guna hidup kita ini.Yang harus selalu kita ingat adalah waktu akan berakhir, hidup ini sudah ada yang mengatur, masing-masing sudah diberi jatah usia sendiri-sendiri, walaupun kita tidak mungkin mengetahuinya. Jadi apa lagi yang kita tunggu?

Segera manfaatkan hidup ini untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan memetik hasilnya nanti, kata AA gym : cobalah dengan hal kecil, dari diri sendiri dan mulai saat ini.

~ oleh bamburuncing pada Februari 1, 2008.

Satu Tanggapan to “Waktu”

  1. Wah jadi ingat KOTA JOGJA nich, hampir 10 tahun aku disana, banyak kenangan yang tidak pernah terlupakan, tapi sekarang udah pulang kampung, Makasih nich buat bambu runcing kasih info tentang SEKATEN, sukses selalu bambu runcing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: