Do’a Bersama

doa-akhir-tahuna.jpg

Habis sudah bulan Dzulhijjah, inilah akhir bulan dan akhir tahun 1428H bagi umat islam, segenap umat seakan kompak berdoa bersama, sekedar introspeksi, merenungi apa yang telah dilakukan selama ini, mohon ampun atas semua kesalahan disaat lalu, dan berharap ada perbaikan dan kesuksesan dimasa yang akan datang.

doa-akhir-tahun-2a.jpg

Di Masjid AL Barokah Bamburuncing Kauman Parakan, diadakan do’a akhir tahun dan awal tahun secara bersama yang diikuti oleh sebagian besar warga kauman dan sekitarnya, untuk berdoa, mohon ampun, agar dijauhkan dari bahaya, siksa dan bencana, agar kita bisa menjadi muslim dan mukmin yang lebih baik lagi. Acara ini dimulai dengan puji-pujian, sholawatan, pembacaan ayat2 suci Al-Qur’an 30 juz sebanyak tiga kali dan diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh K.H. Murtadlo, imam masjid Al Barokah Bamburuncing.

doa-akhir-tahun-4a.jpg 

Lain di Kauman, lain pula di desa Traji, sebuah desa yang masih berada di Kecamatan Parakan Kauman, dengan lokasi antara kota Parakan dan Ngadirejo, terdapat sendang atau tempat pemandian ‘Teloyo’, sebuah kolam besar untuk mandi dan cuci warga Traji dan sekitarnya yang airnya selalu mengalir karena sumber mata air berasal dari bawah sebuah pohon beringin yang cukup besar yang selalu mengeluarkan air bersih dan segar dari waktu kewaktu.setiap malam satu suro, hari yang sama dengan akhir tahun Hijriah, diadakan do’a bersama namun dengan cara yang berbeda, bentuk ritual yang lebih bermakna kejawen ini diselenggarakan tepat dibawah pohon beringin tersebut sebagai bentuk terima kasih atas segala yang diberikan kepada warga Traji dan sekitar.

Didalam aula kecil itu aroma dupa yang khas sudah menusuk hidung, para pengunjung sudah merangsak maju, untuk menyaksikan upacara pengantin yang diperankan oleh Lurah setempat, sebagai bentuk tradisi, yang kemudian dikirab dari tempat tersebut menuju Balai Desa, dengan arak-arakan yang meriah, sehingga menambah macet jalan raya di sepanjang Desa Traji tersebut.Tak bisa dipungkiri, setiap ada moment atau event tertentu di suatu daerah, selalu ada keramaian, dan pastinya di desa ini ada pasar malam yang selalu dinantikan juga oleh masyarakat setempat.

Pasar malam ini sudah dimulai tiga hari yang lalu dan akan berlangsung selama satu minggu. Ada acara yang menjadi inti dari semua ritual tersebut yaitu diadakannya pentas wayang kulit selama dua hari yang akan dimulai tepat tanggal satu suro pada malam hari, rencananya wayang kulit tersebut akan di Dalangi oleh ki Timbul Hadiprayitno, dalang terkenal dari Yogyakarta.

Sedikit cerita mengenai asal usul diadakan acara wayang kulit tiap saru suro ini, menurut Jauhari, ketua Takmir Masjid Darul Falah Traji, sewaktu penulis bermaksud menunaikan sholat maghrib di masjid tersebut yang kebetulan saja di desa traji ini padam listrik selama kira2 setengah jam, dahulu sebelum ada acara satu suro yang berupa arak-arakan pengantin, di Traji sudah ada acara pentas wayang kulit yang dimainkan oleh dalang Garu sebagai wujud sesembahan pada masa itu.Nama Traji sendiri berasal dari kata trah-aji, sesuatu yang mempunyai aji atau tuah, karena air di sendang tersebut konon bisa bikin awet muda, mampu menyembuhkan berbagai penyakit, jadilah desa di daerah tersebut bernama Traji.

Ada sisi mistik dari perjalanan pentas wayang kulit tersebut, Jauhari lebih jauh menuturkan, pernah ada dalang lain yang menggantikan dalang yang kebetulan berhalangan mengisi acara, namun beberapa hari kemudian meninggal, katanya tidak kuat dengan beban yang ditanggungnya (mungkin maksudnya untuk menjalankan profesi dalang pada acara tersebut dibutuhkan sesuatu yang ‘khusus’, dan dalang pengganti itu tidak mempunyai pamor seperti dalang yang waktu itu berhalangan), namun benar dan tidaknya wallahu a’lam, setiap jiwa sudah ditentukan oleh yang Maha kuasa.

Setelah sholat, penulis meneruskan perjalanan untuk pulang dengan pelan pelan mengikuti arus lalu lintas yang masih macet dengan sedikit membawa oleh-oleh kesenangan yaitu ‘Arumanis’.

Ditempat lain pasti ada yang berbeda pula cara merayakan tahun baru Hijriah 1429H, namun yang terpenting adalah akankan langkah kita akan menjadi lebih baik ditahun ayang akan datang?, semuanya tergantung kita sendiri yang berusaha untuk mewujudkannya, kita harus selalu berusaha dan berusaha dengan segenap jiwa dan raga, dan dengan do’a yang selalu mengiringi tiap langkah, semoga Allah SWT. mengabulkan harapan baik kita, amien.

Tak lupa penulis mengucapkan Selamat Tahun baru Hijriah 1429H.

~ oleh bamburuncing pada Januari 9, 2008.

2 Tanggapan to “Do’a Bersama”

  1. Siip….. makin hari makin OKE aza……

  2. Kita emang kaya akan budaya, tapi mari kita budayakan agama jangan mengagamakan budaya Supaya kita punya hujjah di hadapan Allah SWT kelak.karena agama/addin/al-islam telah direkomendasi oleh Allah SWT.(INNADDIINA’INNDALLAHILISLAAM).Semoga dengan kepergian salah satu Guru kita Mbah KH Muhaiminan Gunardo Rohimahullahu’alaih Parakan tidak kehilangan eksistensinya sebagai kota santri.(Ngadirejo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: