Gorengan sore

gorengan-sorea.jpg

Musim hujan ini kalau sore enakan ngapain ya, kebanyakan sih pada kumpul di rumah, ada nonton TV sambil minum kopi panas, bercanda dengan saudara, baca buku atau kegiatan lain yang menarik sekedar untuk mengisi waktu, kalau aku biasanya malah cari gorengan (jajanan yang digoreng) diluar, kemudian sampai rumah dimakan sambil ditemani kopi panas…wah nikmat sekali ya.

Nah jadi ingat kisah sewaktu jajan gorengan di depan Telkom parakan untuk pertama kali (waktu itu aku masih kost di Yogyakarta dan jarang pulang kampung), selain jajanannya komplit, ada tahu, tempe, puyur, ba’wan, ketela, jrendal dan lain-lain saking enggak hafal sama nama-namanya, sajiannya juga ‘hot’ alias baru saja diangkat dari penggorengan, maklum disitu banyak yang antri, jadi begitu jajanan matang langsung diberikan konsumen yang udah pada menanti.Selain rasanya cukup enak, harga juga murah, walaupun kalau pas antri kadang di’tronjol’ sama orang lain yang datang belakangan, juga menurut Endah pemilik warung gorengan sore, usaha ini mulai dijalankan sekitar tahun 1997 sebagai usaha sampingan untuk sekedar mencari kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang suaminya bekerja di PLN bagian instalasi listrik.

Lebih lanjut dituturkan, setelah usaha ini mengalami banyak peningkatan, maka dia mengembangkan dengan cara membuat jajanan dengan lebih banyak selain jumlah juga jenisnya, sampai sekarang ada sekitar 15 macam gorengan, minuman hangat dan asesoris lain (maksudnya ada rokok, permen dan lain-lain sebagai pelengkap) hal ini juga dikarenakan makin banyaknya permintaan dari konsumen yang kebanyakan salesman, sopir, kenek dan kondektur kendaraan dan orang-orang dilingkungan sekitar.

Ibu dua anak ini sekarang sedikit lega karena bisa membantu perekonomian keluarga, dengan omsetnya tiap hari sekitar 250 – 350 ribu rupiah, dia membuka gorengan sore ini mulai pukul 15.00 sampai 20.00 WIB.

Tak lanjutin lagi ceritanya waktu pertama kali makan gorengan sore itu ya mulanya sih biasa saja, ya pesan gorengan, setelah dapat, bayar dan langsung pulang, tapi dijalan sempet mikir juga sih rasa-rasanya pernah kenal dengan penjual itu tapi dimana dan kapan ya?, nggak tahunya dia juga berpikiran sama denganku. Setelah aku bertanya sama tetangga sebelah (dihari yang lain) dan dia juga menanyakan hal yang sama, akhirnya pas ketemu lagi, hahaha…kita ketawa bareng disaksikan para pembeli yang pada bengong (disangkanya kita lagi kumat penyakitnya kali).

Ternyata kita adalah teman sekolah satu angkatan di SMA Pemda Parakan dulu (sekarang namanya BHumi Phala), wah bentuk kita juga udah pada berubah ya, soalnya sudah lama sekali nggak pernah ketemu. Dan sekarang sih kalo pas mampir kesana untuk beli gorengan udah ceplas ceplos lagi ngomongnya seperti dulu waktu masa SMA (kalau kemarin-kemarin sih masih pakai bahasa jawa kromo inggil,  ‘bade tumbas mbak…gorenganipun, tempe kaleh tahu…pinteeen?’).

~ oleh bamburuncing pada Desember 21, 2007.

Satu Tanggapan to “Gorengan sore”

  1. Dulu d Parakan ada Makanan yg namanya :

    – Lento-lento
    – Ndas Borok
    – Rondo Kemul
    – Rondo Royal
    – Jenang Sungsum
    – Jenang Candil
    – Gemblong
    – Ento (alus dan kasar)
    – Jogla-jagli
    – Samiyer
    – Emping Ento
    – Criping (dari singkong)
    – Timus
    – Bongko (mbah Potro)
    – Utri
    – Lemet
    – Wihku
    – Untir-untir
    – dll

    Wah akeh tenan ora apal, siapa nambahi

    Apa sekarang masih ada yaaa semua itu

    BR : masih donk, di pasar entho sama di pasar legi, juga di kaki lima jl. Diponegoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: