Yamasaki

•November 16, 2008 • & Komentar

arif-yamasaki-1Sepintas mirip nama yang kental dengan nuansa Jepang.

Akhmad Syarif, remaja asal desa Wanutengah RT 05 RW 01 Parakan yang sering di panggil Arif Yamasaki, yang sehari-hari keliling kota Parakan untuk menjajakan gambar kartun jepang berdasarkan pesanan, atau lebih tepatnya menerima jasa menggambar tokoh2 kartun Jepang, seperti Naruto, Dragonball dll. Yamasaki sendiri dalam bahasa Jepang berarti Keinginan sebesar gunung.

 

Bermodalkan kertas gambar, pinsil dan beberapa contoh gambar umbul tokoh2 kartun Jepang, dia keluar masuk kampung dari pukul 08.00 WIB dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB untuk mengunjungi para pelanggan yang rata-rata adalah anak-anak usia SD dan SMP. Cukup dengan biaya Rp. 500 sampai Rp.1000 tiap gambar, perhari dia mampu mengerjakan antara 20 sampai 50 gambar hitam putih di atas kertas gambar berukuran sekitar 15 x 20 cm, memang  sebenarnya ini bukan bakatnya menggambar kartun, namun peluang ini diambil sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Laki-laki kelahiran Parakan, Januari 1983, mengenyam pendidikan di MTsN Manden Parakan, kemudian masuk ke SMK Purworejo, tahun 2001 sampai 2006 bekerja sebagai supervisor di perusahaan Columbia Purworejo, menguasai bahasa Jepang secara aktif setelah bergabung dengan “YAMASAKI”, sebuah paguyuban bahasa Jepang, sayang sekali beberapa tahun kemudian paguyuban itu bubar karena tidak ada generasi penerus.

 

Pertengahan tahun 2006 bekerja di bengkel las sebagai penggulung kumparan dinamo, namun hanya bertahan 3 bulan kemudian pulang kampung kerumah orang tua tanpa pekerjaan apapun alias menganggur. Dengan keahliannya dibidang bahasa Jepang, berbicara, membaca dan menulis Katagana, Hiragana dan Kanji, dia punya keinginan untuk menjadi guide atau membuka kursus, namun hal itu gagal karena selain modal usaha yang tidak ada, peminatnya juga masih sepi.

 

Akhirnya sekitar bulan Agustus 2008 lalu dia bekerja sebagai “tukang” gambar tokoh, kartun Jepang, lumayan sambutan konsumen yang rata-rata anak-anak itu, sehingga setidaknya sampai sekarang dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai ciri khasnya, maka disetiap gambar diberi tulisan-tulisan jepang untuk lebih memperkenalkan pada anak-anak, sehingga mereka selain akrab dengan tokoh-tokoh tersebut, juga mengenal tulisan Jepang.

arif-yamasaki-2

 

Saat penulis berkesempatan berbincang-bincang, minggu 16 November 2008 kemarin, dia begitu antusias, optimis dan tekun dalam pekerjaan yang ditekuni, walaupun secara financial nilainya masih jauh dari cukup, namun harapan ke depan, suatu saat entah kapan, dia berkeinginan untuk mewujudkan cita-citanya yaitu membuka kursus bahasa Jepang, penulis memberi gambaran, sebenarnya dengan modal bahasa dan penguasaan menulis tersebut masih bisa dikembangkan lagi misalnya dengan mencoba berlatih menulis kaligrafi jepang, belajar lagi teknik menggambar kartun yang nantinya bisa menciptakan tokoh ciptaan sendiri untuk bisa dikembangkan menjadi komik, animasi, kartun dan lain sebagainya, memang kendala modal, lingkungan kadang menjadi hambatan, namun dengan tekat yang kuat, terus berlatih dan berusaha, mencari informasi yang terus menerus, suatu saat entah itu kapan tujuan yang ingin kita capai bisa berhasil.

 

Jika ada yang berkeinginan untuk menghubungi Arif, silakan ke 085743047429 (sementara ini adalah no hp adiknya)

Perut Six Pack

•November 15, 2008 • 1 Komentar

ebook_cover_small1Bagi yang sudah sering gagal membangun perut six pack, mungkin buku ini bisa menjadi motivasi, untuk menambah semangat teman2 yang sudah dengan susah payah membentuk perut kotak-kotak dan akhirnya berhasil, ini ada alamat yang bisa buat pelajaran, silakan direnungkan, kumpulkan semangat dan mulailah dari sekarang (penulispun juga pengin berhasil membentuk perut six pack…namun belum berhasil, mg2 ini bisa menambah semangat untuk bisa berhasil)

http://www.truthaboutabs.com/get-ripped-abs.html

Magno – Wooden Radio

•Oktober 8, 2008 • & Komentar

web ini adalah untuk national design award, yang pengin ikutan mendukung buat karya negeri sendiri (Temanggung) silakan pilih produk radio kayu “magno” asli bikinan Kandangan Temanggung oleh Singgih Susilo Kartono, dukung dengan mengklik vote di alamat berikut ini

http://peoplesdesignaward.cooperhewitt.org/2008/nominee/1734

web magno ada di www.magno-design.com

info lebih banyak tentang radio kayu ini bisa klik alamat2 berikut ini :

http://www.vincon.com/web/en/NEWS/index.htm

http://www.designboom.com/weblog/cat/8/view/4015/magno-wooden-radio-for-vincon.html

http://www.productpilot.com/en/suppliers/wooden-radio-errichiello-zschiesche/

http://www.nafed.go.id/forumigds.php?ctrl=detailpemenang&idigds=16&idcompany=31911

http://www.wooden-radio.com/

http://indrawanbp.wordpress.com/2008/03/04/magno-wooden-radio-from-kandangan/

http://youknowmysenses.blogspot.com/

http://www.fsrd.itb.ac.id/?p=630

http://www.nikkeibp.co.jp/style/eco/column/masuda/070717_radio/index1.html

mari tingkatkan kreatifitas kita dalam berkarya untuk kemajuan Temanggung.

Spirit Cycle

•September 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Secara tak sengaja nih, lagi nyari kata ’spirit’ di google search, eh nemu jenis sepeda kaya ini, wah asyik juga ya, barangkali bisa untuk keliling kota, keluar masuk desa dan kampung atau sekedar olah raga sambil menghirup udara segar pegunungan, tapi hanya untuk satu orang saja alias gak bisa boncengan, asyiknya lagi ada tempat untuk menaruh sesuatu di tas/rangsel belakang, wah bisa sekalian untuk piknik atau belanja, hanya saja harus hati-hati lho kalo punya sepeda ini, pasti rawan penculikan, eh pencurian, soalnya selain modelnya aneh, unik dan pasti banyak yang melirik, harganya cukup lumayan yaitu $ 1,690.00, nah kalau dirupiahkan jadi berapa ? plus biaya paket yang harus di tanggung pembeli kalau pesan lewat internet. (tapi barangkali saja di indonesia sudah ada yang jual ya?)

info lengkapnya ada di http://www.hpvelotechnik.com/produkte/spirit/index_e.html

CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

•September 19, 2008 • Comments Off

Bulan Renungan

•September 15, 2008 • & Komentar

Bulan September ini benar-benar merupakan bulan penuh renungan dan introspeksi.

Selain bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, minggu ini juga merupakan saat berkabung bagiku dan keluarga, karena bapak tercinta, Iman Syuri telah berpulang ke Rahmatullah kamis, 11 September 2008 pukul 23.30 WIB di RS. Muhammadiyah Kalisat, Kedu Temanggung di usia ke 78 tahun.

Pemakaman dilakukan esok harinya pukul 10.00 WIB di Makam Sekuncen Parakan.

Bapak menderita komplikasi paru-paru, jantung, batu empedu, darah rendah dan maag yang sudah akut, memang sakitnya sudah lama dan sering kambuh, namun mungkin inilah yang sudah digariskan oleh Allah SWT, bahwa hidup, mati, rizki dan jodoh memang sudah diatur.

Bapak meninggalkan ibu dan 4 orang putra (2 putri dan 2 putra) yang sudah menikah (termasuk saya sebagai putra ke-4), semoga kami semua bisa melanjutkan cita-cita orang tua kami, sabar dan tabah dalam menjalani hidup ini, dan berbakti kepada ibu kami dengan perhatian yang lebih, dikarenakan usianya yang juga sudah tua.

Hal yang menjadi renungan untukku….

Kenangan indah bersama bapak, nasihat, contoh / teladan dan hal-hal lain menjadi bekalku untuk bisa bersikap lebih dewasa, bertanggung jawab dan bijaksana, lebih mendekatkan diri pada Allah SWT dan lebih bisa peduli dengan sesame.

Kini tinggal Ibuku….

Yang harus kami beri perhatian penuh, selain keluarga kami sendiri, mungkin inilah mengapa Allah menunjukkanku pada jalan hidupku yang harus kembali ke kampung halaman, kembali ke rumah orang tuaku setelah lama berada di Jogja, setelah tetap bersikeras untuk kembali ke Jogja sesudah menikah dengan perempuan asli Parakan, dengan peringatan gempa dan angin topan yang melanda Jogja dan meruntuhkan ratusan rumah termasuk di tempat kontrakanku, untuk berbakti pada kedua orang tua, untuk menyambut kehidupan baru untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh, untuk membangun keluarga, lingkungan sekitar, parakan dan Temanggung.

Hari-hari ini merupakan evaluasi terhadap perjalananku yang telah lalu, semoga arah hidupku dan keluarga bisa berubah menjadi semakin baik lagi.

Yang perlu digaris bawahi adalah, bahwa hidup semakin pendek, waktu semakin sedikit, harus diprioritaskan mana yang lebih penting dalam hidup ini untuk di kerjakan.

Hidup sangatah berarti, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bulan ini masih bulan Ramadhan, masih setengah bulan lagi, bulan penuh berkah.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…selamat berpulang Pak, semoga mendapat rahmat disisi Allah, diampuni segala dosa-dosa, mendapat syafaat di hari akhir, dan masuk surga, jannatunna’im.

Amin.

Warung Cukur Welly

•September 15, 2008 • 1 Komentar

Namanya Welly Waluyo 38 tahun, bapak dengan satu istri dan tiga anak ini memulai usaha cukur mencukur sejak tahun 1988 di Pasar Kembang, dua tahun kemudian pindah tempat di sebelah barat bekas SMP Al-Iman Parakan atau tepatnya di jl. KH. Subchi.

Warung cukur yang bisa dikategorikan untuk kelas menengah kebawah ini tergolong laris dan banyak pelangganya, termasuk teman dan kenalan yang sekedar mampir untuk nongkrong, ngobrol, baca koran maupun berbagi cerita. Memang warung ini tidak cukup luas, dengan area sekitar 2,5 x 3 meter yang terdiri dari dua bangku panjang untuk duduk, dan satu set meja kursi cukur, serta sebuah cermin dia mengontraknya dengan biaya perbulan Rp. 90 ribu.

Buka dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, biaya cukur untuk dewasa Rp.6000 dan anak-anak Rp.5000 ini cukup murah, meski begitu kondisi ekonomi di Parakan yang tidak menentu yang menyebabkan sepinya order, meskipun begitu pernah ada salah satu pengunjung yang juga menjadi pelanggannya memberikan uang Rp. 50 ribu setelah dicukur rambutnya sebagai tanda terimakasih dan persahabatan.

Menurut Wal panggilan akrabnya; dalam sehari setidaknya ada dua pengunjung yang datang untuk potong rambut, kalau sedang ramai bisa sekitar 10 orang, para pelanggan terdiri dari pedagang dan pengusaha, tedak saja dari lingkungan masyarakat Parakan dan sekitar saja, namun juga dari Semarang, Purwodadi dan Malang yang sering mengadakan perjalanan antar kota.

Laki-laki kelahiran Kentengsari lulusan Madrasah Ibtidaiyah Parakan ini berminat pada cukur mencukur ini dengan cara otodidak, kemudian memperdalam lagi dengan kursus privat dirumahnya, sebelum itu pernah juga jadi pengamen keliling kota Parakan, setelah mendapat nasihat dari sang kakak, barulah dia mendalami dunia potong rambut.

Satu lagi yang menjadi ciri khas dalam menjalankan tugas adalah sambil berdakwah namun dengan bahasa percakapan biasa, lewat obrolan yang santun namun berisi, guyonan ringan sebagai hiburan.

Amar Ma’ruf nahi Munkar adalah filosofi yang selalu dia terapkan dalam perjalanan hidupnya, sungguh patut untuk dicontoh buat kita bersama.

Ganti Slebor

•September 14, 2008 • 1 Komentar

Siang ini keinginan untuk memangkas rambut gondrongku begitu besar, memang sudah sebulan ini aku agak bosan dengan rambut panjangku ini, selain kalau keramas menghabiskan banyak shampo, dan kalau sudah keramas lama banget mengeringkannya.

Keren juga sih berambut gondrong, tapi tak apalah, sekali-sekali potong pendek lagi seperti waktu tiga tahun yang lalu.

Di tengah terik matahari kauman, cukup perjalanan pendek untuk sampai di perempatan Sarkem Parakan, tepatnya di tempat potong rambut Welly.

Tanpa pikir panjang lagi setelah sabar menunggu antrian tiga orang, acara ritual “ganti slebor”pun berlangsung  kira-kira 20 menit saja.

Dengan biaya yang cukup murah Rp.6000,- maka kepala ini sudah terasa adem dan enteng, setelah itu langsung pulang untuk keramas dan mandi biar segar…, namun seperti yang sudah biasa diduga, sampai dirumah, seluruh keluarga, anak kecil dan teman-teman dikampung pada tertawa melihat bentuk baruku ini, ah biarin saja…sudah biasa.

Onde-onde

•Agustus 30, 2008 • 1 Komentar

Namanya memang onde-onde, tapi saya kurang tahu asalnya, mungkin dari Madura ya (soale penyebutannya dua kali, tapi kalo dari sana berarti dinamakan “nde-onde”) bentuk dan rasanya sih biasa saja, mungkin jadi lain kalo yang merasakan adalah para penggemarnya.

Camilan lawas yang lagi-lagi hampir punah ditelan modernisasi, tapi masih eksis walaupun dengan kondisi yang tidak menentu.

Adalah pasangan suami istri Darman dan Bariyah, warga dusun kemalangan RT 05/01 Gang Merak no.893 memulai usaha ini sekitar tahun 1984.

Mereka menjalankan usaha tersebut dengan penuh ketekunan agar bisa menghidupi kebutuhan keluarga, namun dengan berlalunya waktu, camilan tersebut sedikit demi sedikit mengalami kemerosotan, bukan dari kualitas barang dan mahalnya bahan baku saja, namun lebih banyak dipengaruhi oleh menurunnya permintaan konsumen.

Dari sedikit permintaan pasar itu, onde-onde Darman hanya diproduksi dalam skala kecil dan melayani permintaan pesanan dari daerah Ngadirejo saja.

Dengan omset sekitar 150 ribu perhari pada hari-hari biasa, dan sekitar 350 ribu pada hari hari besar ( misalnya agustusan dan menjelang lebaran), suami istri yang dibantu mbah Parinten mengolah bahan dasar 8 kg yang terdiri dari beras ketan, wijen, gula jawa dan kacang hijau mulai bekerja pukul 2 dini hari sampai 7 pagi, dari bahan tersebut bisa menjadi sekitar 600 buah onde-onde.

Selain membuat onde-onde sebagai produk utama, mereka juga membuat camilan “cithak hitam” yang berisi kacang brol dan “cithak merah” yang berisi kacang hijau, juga membuat “lemper” berdasarkan pesanan.

Untuk menambah penghasilan, pak Darman juga mengerjakan pekerjaan lain sebagai pemasang keramik,  pembuatan taman (termasuk dinding artistik taman), sedangkan putrinya yang sudah beranjak dewasa kini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Malam Nisfus Sya’ban

•Agustus 17, 2008 • 1 Komentar

La ilaha illallah

Walanakbudu illahiyyah

Mukhlisinalahuddin

Walaukarihalkafirun

 

Kalimat-kalimat ini berkumandang berkali-kali sepanjang malam,

Disetiap Masjid, Musholla dan rumah2 penduduk muslim

Warga berbondong-bondong ke tempat peribadatan kembali

Setelah pulang sebentar dari sholat isya’ berjamaah

Untuk melakukan sholat Tasbih berjama’ah

Setelah itu bancakan (makan bersama) “sego gono” dengan perlengkapannya yang disajikan di atas tampah.

 

Inilah malam Nisfussya’ban

Allah membuka pintu langit dan bumi 300 pintu rohmat,

Membebaskan para tahanan sebanyak sejumlah bintang di langit pada malam dan siang dunia

malam penggantian buku catatan manusia,

malam pencacatan amal manusia oleh malaikat Roqib & Atid

 

Inilah malam nisfussya’ban

Malam yang penuh kenangan masa kecil

Dengan tradisi melek (tidak tidur) malam, mendirikan kemah dari kain batik milik emak, yang ditutupkan pada tiang jemuran

Menyalakan api unggun, membuat minuman jahe panas sebagai teman begadang, saling berkunjung ke kemah-kemah lain

Di kampung sebelah, bersilaturrohim, bercanda dan berarak-arakan keliling kampong menyuarakan….

La ilaha illallah, Walanakbudu illahiyyah, Mukhlisinalahuddin ,Walaukarihalkafirun.

 

Kumpulan pengajian saling bertandang ke rumah-rumah penduduk secara bergilir sampai dini hari membacakan surat Yasin bersama-sama.

Malam ini tradisi kemah dan api unggun itu hampir punah, tinggal satu dua kemah yang terlihat, suasana kekraban seperti waktu kecilpun serasa hilang.

Waktu terus berjalan, masapun silih berganti, ini adalah malam Sya’ban yang kesekian kali

Esok hari disunahkan untuk berpuasa satu hari

Mari kita manfaatkan waktu yang masih bisa kita alami ini, untuk terus mensyukuri ni’mat Allah yang tiada habisnya

Untuk terus berusaha melaksanakan perintahnya, untuk bisa membuat umat islam ini “rahmatan lil alamin”.

 

 

 

 

foto kiri : keceriaan anak-anak kampung karang tengah di depan kemah mereka (dari kiri ke kanan : Atqo, Amar, Irzaq, Atok, Dila, Ubed)

foto kanan : Kelompok pengajian keliling sedang membaca surat Yasin di rumah penyusun.